Hunian Vertikal di Stasiun Siap Dibangun

FTGRF

 

KOMPAS — Perum Perumnas segera membangun hunian vertikal terpadu di kawasan Stasiun Tanjung Barat dan Pondok Cina, DKI Jakarta. Hunian yang pertama-tama ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah itu membutuhkan investasi Rp 1 triliun. ”Direncanakan minggu depan akan groundbreaking untuk di Stasiun Tanjung Barat dan Stasiun Pondok Cina, termasuk untuk pendaftaran konsumen. Izin mendirikan bangunan bertahap dan masih dalam proses,” ujar Direktur Pemasaran Perum Perumnas Muhammad Nawir pada akhir pekan lalu di Jakarta. Nawir mengatakan, pergerakan orang di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya sangat tinggi. Salah satu moda yang dikembangkan di DKI Jakarta adalah transportasi berbasis rel. Salah satunya yang sudah berjalan dan diminati semakin banyak orang dari kawasan pinggir kota ke tengah kota Jakarta adalah kereta komuter (KRL). Stasiun pun menjadi simpul mobilitas orang. Melihat peluang ini, lanjut Nawir, Perum Perumnas bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengembangkan hunian vertikal yang terintegrasi dengan transportasi. Stasiun Tanjung Barat dan Stasiun Pondok Cina dipilih untuk dikembangkan dengan konsep transit oriented development. Menurut rencana, di Stasiun Pondok Cina akan dibangun 2.100 unit rumah susun (rusun) dan di Stasiun Tanjung Barat akan dibangun 1.500 unit rusun. Selain itu, juga akan dibangun kawasan komersial yang terintegrasi dengan hunian. Kawasan komersial tersebut menjadi titik berkumpul antara penghuni dan pengguna kereta komuter. ”Fungsi kawasan komersial ini sekaligus sebagai subsidi silang bagi huniannya,” kata Nawir. Rusun diutamakan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Artinya, rusun diperuntukkan bagi masyarakat yang belum memiliki rumah dengan gaji pokok maksimal Rp 7 juta per bulan. Secara terpisah, Ketua Umum Lembaga Pengkajian Pengembangan Perumahan dan Perkotaan Indonesia Zulfi Syarif Koto mengatakan, kerja sama Perumnas dan KAI yang sama-sama merupakan BUMN menunjukkan dorongan pemerintah agar BUMN bersinergi. ”Khusus untuk pengembangan hunian di stasiun, yang mesti diperhatikan adalah status tanahnya. Memang kalau dijual bagi masyarakat berpenghasilan rendah bisa berupa sewa atau milik,” kata Zulfi. Zulfi menambahkan, upaya Perumnas dan KAI perlu didukung dengan mempermudah proses perizinan.

 

Sumber: Harian Kompas, 12 Juni 2017

Serut, Potret Dusun dengan Perencanaan

IMG_1109B

Serut, mungkin nama wilayah ini jarang terdengar, dan bila anda lihat dipeta Kabupaten Bantul pasti tidak akan terlihat. Serut, merupakan potret dusun yang ditata dengan perencanaan partisipatif bersama masyarakat sehingga sekarang masyarakat menikmati hasil kerja kerasnya, dengan perubahan yang terjadi di wilayahnya.

Dusun Serut terletak di Desa Palbapang, Kecamatan Bantul jadi sebelah selatan dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Bantul. Proses perencanaan partisipatif ini diawali pada saat terjadi gempa bumi tahun 2006, walaupun sebelumnya dusun ini sering menjadi tempat percontohan program pembangunan di Kabupaten Bantul, terutama yang terkait dengan pertanian organik dan partisipasi masyarakat.

Proses belajar dan membangun dusun ini, dilakukan bersama dengan lembaga perumahan HRC, yang pada saat itu dibentuk oleh Kementeriaan Perumahan Rakyat sebagai wadah berkumpul masyarakat untuk diskusi, konsultasi dan belajar segala hal terkait dengan rumah dan lingkungannya. Untuk lebih detil kegiatannya silahkan kunjungi web sitenya www.hrcindonesia.org

Proses perencanaan diawali dengan rembug warga, pengumpulan data awal dan kebutuhan, kemudian memetakan data eksisting rumah dan kepemilikannya. Setelah itu mengolah data dan menyusun peta dusun untuk dianalisa dan dijadikan rencana peruntukan kawasan dusun. Hasil perencanaan tersebut di uji publik ke masyarakat untuk kesesuaian  dengan kebutuhan masyarakat.

Perencanaan partisipatif tersebut menghasilkan rencana yang memang menjadi kebutuhan masyarakat antara lain rencana penataan/penguatan kandang kelompok, rencana budidaya tanaman hias, rencana pertanian organik, rencana karamba untuk ikan air tawar, rencana ruang hijau edukatif,  percontohan septictank komunal, rencana perbaikan drainase dan jalan desa, rencana pembuatan jalan/gang baru, rencana pembuatan Gedung Serba Guna, rencana Tempat Pembuangan Sampah dan rencana komposting.

Dusun Serut di tahun 2010 berbeda dengan Serut pada tahun 2006, setelah tiga tahun perencanaan berjalan, masyarakat mulai merasakan inilah potret dusun yang memiliki perencanaan. Hampir sebagian besar dari rencana kegiatan lima tahunan sudah terealisasi dan memberi dampak positif terhadap perubahan ekonomi menuju lebih baik.

Bila anda berkunjung ke dusun Serut, anda akan diterima di sebuah rumah baca ‘Jayari’ dari kayu yang merupakan desain dari arsitek ternama Jogja, Eko Prawoto. Anda kemudian akan ditawari untuk rute perjalanan dari menikmati jalan dusun yang sudah nyaman, pengolahan sampah organik menjadi komposting yang melibatkan orang-orang cacat akibat gempa. Tidak hanya itu pengolahan sampah non organik menjadi kerajinan  juga ada beberapa kelompok, yang bisa anda jadikan oleh-oleh, setelah anda lelah akan disuguhi olahan beras organik yag sehat dengan sayuran-sayuran yang dipanen dari polybag tanaman milik masyarakat.

Kalau anda ingin belajar tentang perencanaan partisipatif, silahkan datang ke Dusun Serut. Bahkan mereka sudah siap dengan paket-paket kunjungan, pelatihan maupun studi banding dengan homestay rumah-rumah penduduk. Selamat mencoba…

Menggagas Kota (Pusaka) Kebumen: Silang Budaya Pembentuk Nilai Tata Ruang Kota

Sebagai bagian dari Nusantara, Indonesia memiliki keunikan budaya dan tata ruang yang telah berjalan dari waktu ke waktu. Keunikan tersebut telah berjalan selama ratusan hingga ribuan tahun dan tampak pada banyak kota di berbagai kota Indonesia. Itulah salah satu informasi yang didapatkan dari kuliah tamu yang diadakan HRC Yogyakarta, Kamis (20/04) Pukul 15.00 WIB di Studio HRC Indonesia.  Narasumber pada kuliah tamu tersebut adalah Bu Dr. Wahyu Utami, dosen UGM di bidang konservasi heritage.

IMG_5105 sDalam paparannya, Bu Wahyu Utami yang akrab dipanggil Bu Tami memberi informasi aktual mengenai gencarnya proyek kota pusaka sehingga banyak kota di Indonesia tengah berbenah dan berlomba untuk mengajukan diri. Kota-kota tersebut rata-rata memilik sejarah yang panjang, baik sejak pra-sejarah, kerajaan hindu-budha, hingga jaman penjajahan belanda. Salah satu Kota tersebut adalah Kebumen. “Yang menarik sekali dari Kebumen adalah perpaduan antara banyumas dan bagelen. Pertemuan kedua budaya tersebut membentuk perpaduan unik pada masyarakat dan tata ruangnya,” terang Bu Tami.

Lebih lanjut, Bu Tami menjelaskan lokasi Kebumen dilewati rel kereta api yang merupakan warisan strategi tata ruang jaman penjajahan. Saat itu, Belanda yang memiliki strategi bagaimana agar hasil perkebunan dapat diangkut ke Jakarta agar mudah dibawa ke Negeri Seribu Kincir Angin. Maka dibuatlah 6 titik stasiun kereta yang masih berfungsi hingga saat ini, yaitu; 1. Stasiun Kebumen; 2. Stasiun Soka; 3. Stasiun Sruweng; 4. Stasiun Karanganyar; 5. Stasiun Gombong; 6. Stasiun Ijo.

Sebagai Kota yang dibangun Hindia Belanda, landscape Kebumen memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya berupa peninggalan fisik Benteng Van Der Wijk dan peninggalan aktifitas yang tetap dilakukan masyarakat secara turun menurun bahkan hingga saat ini berupa Kawasan Pabrik Genteng Sokka. Saat ini tobong-tobong pembakar genteng di sana tetap berdiri kokoh sehingga membentuk citra dan identitas tersendiri. Dari segi sejarah perjuangan, Kebumen juga memiliki sejarah penting terkait toleransi etnis. Pangkalan militer gombong merupakan cikal bakal masyarakat etnis tiongkok turut serta bergabung dalam militer Indonesia.

Dalam pelaksanaan Kota Pusaka, dibutuhkan instrumen pengendalian berupa PERDA dan PERGUB khusus untuk menjaga dan meminimalisir pergeseran ruang yang merusak struktur kota. Kedepan, kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memanajemen ruang dengan nilai pusaka tinggi, bukan menafikan perubahan dan perkembangan Kota. Sebab poin salah satu poin utama dari Kota Pusaka adalah merubah fungsi bangunan, tanpa merombak bangunan. “Yang penting masih dalam zona (peruntukan)nya, tidak berlebihan”, tutup Bu Tami di akhir Kuliah Umum.

 

 

Finlandia, Negara Paling Ramah Lingkungan di Dunia

Untitled-1.jpg

Finlandia merupakan salah satu negara nordik atau Eropa Utara dengan iklimnya yang dingin karena sebagian wilayahnya terletak lingkar kutub (arctic circle). Kendati demikian, bukan berarti seluruh daratannya tertutup salju sepanjang tahun. Bahkan rasio hutan dengan total wilayah Finlandia merupakan yang terbesar di antara negara-negara Eropa lainnya. Negara asal game Angry Bird ini sekarang sedang gencar-gencarnya menggalakkan program-program ramah lingkungan, terutama di bidang pelestarian hutan, pengendalian polusi, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Menurut Indeks Kinerja Lingkungan 2016, Finlandia adalah negara terhijau di dunia kemudian diikuti oleh Islandia, Swedia, Denmark dan Slovenia.

Indeks Kinerja Lingkungan (Environmental Performance Index / EPI) memberi peringkat kinerja negara terhadap isu lingkungan di dua bidang, yakni perlindungan kesehatan manusia dan perlindungan ekosistem. Indeks ini dibuat oleh Universitas Yale dan Columbia bersamaan dengan World Economic Forum. EPI dibangun melalui perhitungan dan agregasi sembilan isu yang mencakup lebih dari 20 indikator.

Menurut laporan tersebut, peringkat teratas Finlandia sebagian besar didasarkan pada komitmen masyarakatnya untuk mencapai komunitas netral karbon (komunitas yang mampu menyerap karbon sebanyak yang mereka buang) pada tahun 2050. Berdasarkan hasil evaluasi EPI, Finlandia dinilai telah sangat baik untuk penanganan dampak di bidang kesehatan, air dan sanitasi serta keanekaragaman hayati dan habitatnya.

Finlandia menyediakan banyak contoh menarik tentang bagaimana melindungi lingkungan alamnya. Kebijakan perlindungan lingkungan di Finlandia didasari oleh database lingkungan yang luas dan terperinci serta tingkat keterampilan teknologi yang tinggi dari pemangku kepentingannya. Hal ini menjadi landasan bagi administrasi dan undang-undang lingkungan yang sangat efektif, karena cara perlindungan lingkungan dipertimbangkan di semua sektor masyarakat. Kepadatan penduduk Finlandia yang rendah dan lingkungan alam yang masih murni juga mempermudah usaha konservasi alam tersebut.

Buah regulasi kebijakan lingkungan tersebut terlihat jelas di seluruh negeri. Banyak danau dan sungai yang tercemar telah dibersihkan. Kualitas udara juga telah meningkat secara pesat di sekitar kawasan industri. Sebuah jaringan kawasan lindung yang terdiri dari hutan, sungai, danau, dan gunung telah ditetapkan untuk melindungi keanekaragaman hayati. Hutan sebagai sumber daya alam paling berharga di Finlandia dikelola dengan lebih seksama daripada sebelumnya. Bahkan, saat ini tingkat pertumbuhan tahunan dari hutan-hutan di Finlandia secara keseluruhan telah jauh melebihi jumlah total kebutuhan kayu di negara tersebut.

Emisi dari fasilitas industri besar juga telah ditekan secara signifikan, termasuk dari sektor pertanian, transportasi dan rumah tangga. Meski penetapan berbagai peraturan dan standarisasi pro-lingkungan ini pada awalnya kurang begitu menguntungkan bagi sektor industri yang ada, namun dalam jangka panjang dampak positif dari lingkungan yang terjaga pastinya akan dapat dirasakan bersama, dan masyarakat Finlandia percaya akan hal itu.

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Finlandia telah dilakukan sejak tahun 1990an. Prinsip konservasi lingkungannya senantiasa diperbaiki dan dikembangkan. Saat ini, perhatian lebih diberikan pada pengelolaan ekologis hutan komersial dan hutan lindungnya. Alasannya adalah bahwa semakin baik pengelolaan dan pemeliharaan wilayah hutannya, maka kelestarian hayati yang sebagian besar bergantung pada hutan daerah sekitarnya akan semakin mudah untuk dijaga. Kebijakan ini pun akhirnya membawa hasil positif. Survei spesies terancam di Finlandia pada tahun 2010, menemukan bahwa status spesies hutan telah berkembang dengan cara yang lebih baik seperti spesies yang hidup di ekosistem lain.

Kemajuan Finlandia di bidang pelestarian lingkungan tidak serta merta terjadi karena kebijakan dan peraturan yang baik, namun lebih kepada kesadaran masyarakatnya untuk selalu menjaga kelestarian alamnya. Komitmen bersama seperti inilah yang perlu ditiru oleh masyarakat negara lain agar permasalahan lingkungan dan iklim global dapat segera teratasi.

Indonesia, yang memiliki peringkat EPI pada urutan ke 107 dari 180 dapat belajar banyak dari negara ini.

Sumber : https://finland.fi, http://www.smy.fi

Hari Bumi Sedunia dan Esensinya

iop.jpg

http://resources4rethinking.ca

Hari Bumi (Earth Day) adalah peringatan tahunan yang dirayakan pada tanggal 22 April setiap tahunnya di seluruh dunia. Peringatan internasional ini dirayakan dengan berbagai acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bersama sekaligus menunjukkan dukungan dalam upaya pelestarian lingkungan. Semenjak pertama kali dirayakan pada tahun 1970, perayaan Hari Bumi kini telah menjangkau lebih dari 193 negara di bawah koordinasi Earth Day Network (EDN), yaitu sebuah organisasi non  profit dan advokasi yang bekerja pada isu-isu lingkungan yang mendesak seperti perubahan iklim, energi terbarukan, dan pendidikan lingkungan di seluruh dunia.

Mirip dengan peringatan Earth Hour, Earth Day juga dirayakan secara serentak dengan berbagai event simbolis seperti penanaman pohon, parade bersepeda, pawai, pendidikan tentang lingkungan, flash mob, pembersihan kota dari sampah dan lain sebagainya. Ide utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan sekitarnya sebagai bagian dari lingkungan global. Oleh karena itu, merayakan Hari Bumi tidak hanya dilakukan berupa seremonial saja, namun lebih ke peran serta aktif sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam upaya pelestarian lingkungan.

Pada tahun 1990, Hari Bumi mulai dirayakan secara global oleh lebih dari 200 juta orang di lebih dari 140 negara yang berpartisipasi. Pada tahun 2000, Hari Bumi fokus dengan isu global warming dan penggunaan energi terbarukan dengan melibatkan ratusan juta orang, termasuk di dalamnya 5000 kelompok pemerhati lingkungan di 184 negara. Tahun 2016 kemarin, fokus Hari Bumi adalah penanaman pohon kembali, dengan target global berupa 7,8 milyar pohon sampai tahun 2020, atau satu pohon untuk tiap manusia di muka bumi. Menurut EDN, tahun lalu lebih dari 1 miliar orang terlibat dalam kegiatan Hari Bumi ini, menjadikan Hari Bumi sebagai event global terbesar di dunia.

Tahun 2017 ini, fokus tema Hari Bumi adalah literasi terhadap lingkungan alam dan iklim di dalamnya. Literasi merupakan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan iklim, yang hanya dapat dicapai dengan bekal pendidikan terlebih dahulu. Bersama-sama, kita perlu membangun masyarakat global yang paham akan konsep perubahan iklim dan menyadari bahwa ancaman tersebut penting untuk segera diatasi. Hal ini dirasa masih sangat relevan, karena selain faktor ketidaktahuan masyarakat, banyak pula masyarakat yang tidak percaya akan adanya global warming, perubahan iklim dan isu-isu lingkungan lain yang sudah jelas di depan mata.

Kesadaran terhadap lingkungan alam dan iklim di dalamnya tidak hanya akan mendukung dalam penyusunan hukum dan kebijakan yang pro lingkungan. Dengan lebih banyak masyarakat yang bergerak, pengembangan dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan juga akan semakin meningkat. Hal ini pada akhirnya akan memberi sumbangsih yang signifikan terhadap kelestarian planet kita, dimulai dari masing-masing individu di lingkungan sekitarnya.

Sumber: http://www.earthday.org

Membangun Konsep Baru Permukiman Nelayan di Kampung Wisata Bulak, Surabaya

Perkampungan nelayan selama ini sering dihubungkan dengan lingkungan yang sederhana, kurang berkembang, dan bahkan terkesan kumuh. Pengembangannya sebagai permukiman menengah ke atas amat jarang terjadi karena sebagian besar masyarakat nelayan Indonesia merupakan nelayan kecil yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Wilayah pantai yang dikembangkan dengan baik biasanya merupakan kawasan pariwisata yang khusus dibangun untuk perhotelan dan wisata pantai. Perkampungan nelayan seolah dianggap sebagai ‘halaman belakang’ yang hanya berfungsi untuk menghasilkan produk laut bagi daerah wisata di dekatnya.

Meski sebagian masih banyak yang dianggap sebagai ‘halaman belakang’, namun cara pandang seperti ini agaknya memang sudah saatnya untuk dirubah. Sebagian pemerintah daerah saat ini telah memulai inisiatif untuk mengembangkan wilayahnya dengan konsep-konsep baru. Contoh nya di kota Bandung dan Surabaya yang terkenal dengan konsep ruang publiknya yang kreatif. Sebagai salah satu kota dengan wilayah pesisirnya yang strategis, Surabaya mulai menata kawasan permukiman tepi pantainya dengan gaya tersendiri. Kampung Wisata Bulak di Pantai Kenjeran merupakan salah satu contohnya.

hkh;hil.jpg

Kampung Wisata Bulak, Kenjeran, Surabaya (kimbaharisukolilobaru.blogspot.co.uk)

Kampung Wisata Bulak adalah sebuah perkampungan nelayan yang terletak di sepanjang kawasan pesisir pantai Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Di sini, ratusan rumah yang sebagian besar dihuni oleh para nelayan ini mendapatkan program penataan dan pengecatan ulang sebagai bagian dari program pengembangan wisata terpadu di kecamatan berpenduduk sekitar 5.500 jiwa tersebut.

Perkampungan ini terkesan unik dan meriah dengan pewarnaan rumah-rumahnya yang semarak. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, mengharapkan penataan yang mempercantik kawasan pesisir ini dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara. Kampung nelayan ini memang ditujukan sebagai suatu kampung wisata dan tidak hanya sekedar perkampungan nelayan biasa yang kegiatannya hanya sebatas penangkapan dan pengolahan kekayaan laut semata. Hal ini merupakan wujud  kerja sama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan PT HM Sampoerna yang telah diinisiasi sejak tahun 2008 lalu.

Sebagai sebuah kampung wisata, Kampung Wisata Bulak ini memberikan sentuhan kampung nelayan yang memiliki karakter humanis dan ramah. Di sini, wisatawan dapat melihat aktivitas warga yang sebagian besar menjadi nelayan, sekaligus melihat dari dekat bagaimana pengolahan ikan dilakukan hingga sampai di tangan konsumen. Selain itu, di kawasan Kampung Wisata Bulak juga akan dibangun taman indah yang dilengkapi dengan patung Suro dan Boyo setinggi 25 meter menghadap ke laut. Pembangunan Jembatan Kenjeran yang dilengkapi air mancur menari juga disiapkan dan tinggal menunggu pelaksanaan peresmiannya. Apabila hal ini dilanjutkan sesuai rencana, maka Kampung Wisata ini akan dapat dikategorikan sebagai wisata budaya, dengan kehidupan masyarakat sebagai daya tarik utamanya (Pendit, 1994).

Melihat trend tempat wisata populer saat ini, daya tarik terbesar akan terpusat pada objek wisata yang unik dan berbeda dari yang lain. Dengan menjamurnya media sosial yang juga sering menjadi ajang ‘pamer lokasi’, jumlah pengunjung akan senantiasa tinggi meskipun hanya untuk sekedar ambil foto. Menurut Mason (2000:46) dan Poerwanto (1998:53) Atraksi atau daya tarik suatu tempat wisata memang merupakan komponen utama suatu tempat wisata. Akan tetapi, untuk menciptakan sebuah obyek wisata yang komplit, komponen lain yaitu aksesbilitas, kenyamanan (amenities), dan networking juga perlu dibangun. Saat ini, kelemahan Kampung Wisata Bulak adalah pada komponen kenyamanannya, di mana aroma kurang sedap yang berasal dari pengolahan ikan masih terlalu mengganggu bagi wisatawan yang ingin mengunjungi lebih dekat.

Melihat konsep penataan mandiri seperti ini, tentu akan menjadi pembelajaran dan percontohan tersendiri bagi kawasan permukiman nelayan lain di Indonesia. Pemerintah daerah sudah sepatutnya mampu menyertakan setiap kebutuhan permukiman di wilayahnya untuk dapat ditata tanpa menunggu bantuan maupun program dari pusat. Program penataan 11 perkampungan Nelayan tahun 2016-2019 yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memang perlu dilakukan, namun program penataan secara lokal menyesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakatnya akan lebih utama untuk dapat dilaksanakan agar mampu menciptakan potensi yang unik dan berciri khusus.