Menggagas Kota (Pusaka) Kebumen: Silang Budaya Pembentuk Nilai Tata Ruang Kota

Sebagai bagian dari Nusantara, Indonesia memiliki keunikan budaya dan tata ruang yang telah berjalan dari waktu ke waktu. Keunikan tersebut telah berjalan selama ratusan hingga ribuan tahun dan tampak pada banyak kota di berbagai kota Indonesia. Itulah salah satu informasi yang didapatkan dari kuliah tamu yang diadakan HRC Yogyakarta, Kamis (20/04) Pukul 15.00 WIB di Studio HRC Indonesia.  Narasumber pada kuliah tamu tersebut adalah Bu Dr. Wahyu Utami, dosen UGM di bidang konservasi heritage.

IMG_5105 sDalam paparannya, Bu Wahyu Utami yang akrab dipanggil Bu Tami memberi informasi aktual mengenai gencarnya proyek kota pusaka sehingga banyak kota di Indonesia tengah berbenah dan berlomba untuk mengajukan diri. Kota-kota tersebut rata-rata memilik sejarah yang panjang, baik sejak pra-sejarah, kerajaan hindu-budha, hingga jaman penjajahan belanda. Salah satu Kota tersebut adalah Kebumen. “Yang menarik sekali dari Kebumen adalah perpaduan antara banyumas dan bagelen. Pertemuan kedua budaya tersebut membentuk perpaduan unik pada masyarakat dan tata ruangnya,” terang Bu Tami.

Lebih lanjut, Bu Tami menjelaskan lokasi Kebumen dilewati rel kereta api yang merupakan warisan strategi tata ruang jaman penjajahan. Saat itu, Belanda yang memiliki strategi bagaimana agar hasil perkebunan dapat diangkut ke Jakarta agar mudah dibawa ke Negeri Seribu Kincir Angin. Maka dibuatlah 6 titik stasiun kereta yang masih berfungsi hingga saat ini, yaitu; 1. Stasiun Kebumen; 2. Stasiun Soka; 3. Stasiun Sruweng; 4. Stasiun Karanganyar; 5. Stasiun Gombong; 6. Stasiun Ijo.

Sebagai Kota yang dibangun Hindia Belanda, landscape Kebumen memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya berupa peninggalan fisik Benteng Van Der Wijk dan peninggalan aktifitas yang tetap dilakukan masyarakat secara turun menurun bahkan hingga saat ini berupa Kawasan Pabrik Genteng Sokka. Saat ini tobong-tobong pembakar genteng di sana tetap berdiri kokoh sehingga membentuk citra dan identitas tersendiri. Dari segi sejarah perjuangan, Kebumen juga memiliki sejarah penting terkait toleransi etnis. Pangkalan militer gombong merupakan cikal bakal masyarakat etnis tiongkok turut serta bergabung dalam militer Indonesia.

Dalam pelaksanaan Kota Pusaka, dibutuhkan instrumen pengendalian berupa PERDA dan PERGUB khusus untuk menjaga dan meminimalisir pergeseran ruang yang merusak struktur kota. Kedepan, kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memanajemen ruang dengan nilai pusaka tinggi, bukan menafikan perubahan dan perkembangan Kota. Sebab poin salah satu poin utama dari Kota Pusaka adalah merubah fungsi bangunan, tanpa merombak bangunan. “Yang penting masih dalam zona (peruntukan)nya, tidak berlebihan”, tutup Bu Tami di akhir Kuliah Umum.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s