Serut, Potret Dusun dengan Perencanaan

IMG_1109B

Serut, mungkin nama wilayah ini jarang terdengar, dan bila anda lihat dipeta Kabupaten Bantul pasti tidak akan terlihat. Serut, merupakan potret dusun yang ditata dengan perencanaan partisipatif bersama masyarakat sehingga sekarang masyarakat menikmati hasil kerja kerasnya, dengan perubahan yang terjadi di wilayahnya.

Dusun Serut terletak di Desa Palbapang, Kecamatan Bantul jadi sebelah selatan dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Bantul. Proses perencanaan partisipatif ini diawali pada saat terjadi gempa bumi tahun 2006, walaupun sebelumnya dusun ini sering menjadi tempat percontohan program pembangunan di Kabupaten Bantul, terutama yang terkait dengan pertanian organik dan partisipasi masyarakat.

Proses belajar dan membangun dusun ini, dilakukan bersama dengan lembaga perumahan HRC, yang pada saat itu dibentuk oleh Kementeriaan Perumahan Rakyat sebagai wadah berkumpul masyarakat untuk diskusi, konsultasi dan belajar segala hal terkait dengan rumah dan lingkungannya. Untuk lebih detil kegiatannya silahkan kunjungi web sitenya www.hrcindonesia.org

Proses perencanaan diawali dengan rembug warga, pengumpulan data awal dan kebutuhan, kemudian memetakan data eksisting rumah dan kepemilikannya. Setelah itu mengolah data dan menyusun peta dusun untuk dianalisa dan dijadikan rencana peruntukan kawasan dusun. Hasil perencanaan tersebut di uji publik ke masyarakat untuk kesesuaian  dengan kebutuhan masyarakat.

Perencanaan partisipatif tersebut menghasilkan rencana yang memang menjadi kebutuhan masyarakat antara lain rencana penataan/penguatan kandang kelompok, rencana budidaya tanaman hias, rencana pertanian organik, rencana karamba untuk ikan air tawar, rencana ruang hijau edukatif,  percontohan septictank komunal, rencana perbaikan drainase dan jalan desa, rencana pembuatan jalan/gang baru, rencana pembuatan Gedung Serba Guna, rencana Tempat Pembuangan Sampah dan rencana komposting.

Dusun Serut di tahun 2010 berbeda dengan Serut pada tahun 2006, setelah tiga tahun perencanaan berjalan, masyarakat mulai merasakan inilah potret dusun yang memiliki perencanaan. Hampir sebagian besar dari rencana kegiatan lima tahunan sudah terealisasi dan memberi dampak positif terhadap perubahan ekonomi menuju lebih baik.

Bila anda berkunjung ke dusun Serut, anda akan diterima di sebuah rumah baca ‘Jayari’ dari kayu yang merupakan desain dari arsitek ternama Jogja, Eko Prawoto. Anda kemudian akan ditawari untuk rute perjalanan dari menikmati jalan dusun yang sudah nyaman, pengolahan sampah organik menjadi komposting yang melibatkan orang-orang cacat akibat gempa. Tidak hanya itu pengolahan sampah non organik menjadi kerajinan  juga ada beberapa kelompok, yang bisa anda jadikan oleh-oleh, setelah anda lelah akan disuguhi olahan beras organik yag sehat dengan sayuran-sayuran yang dipanen dari polybag tanaman milik masyarakat.

Kalau anda ingin belajar tentang perencanaan partisipatif, silahkan datang ke Dusun Serut. Bahkan mereka sudah siap dengan paket-paket kunjungan, pelatihan maupun studi banding dengan homestay rumah-rumah penduduk. Selamat mencoba…

Menggagas Kota (Pusaka) Kebumen: Silang Budaya Pembentuk Nilai Tata Ruang Kota

Sebagai bagian dari Nusantara, Indonesia memiliki keunikan budaya dan tata ruang yang telah berjalan dari waktu ke waktu. Keunikan tersebut telah berjalan selama ratusan hingga ribuan tahun dan tampak pada banyak kota di berbagai kota Indonesia. Itulah salah satu informasi yang didapatkan dari kuliah tamu yang diadakan HRC Yogyakarta, Kamis (20/04) Pukul 15.00 WIB di Studio HRC Indonesia.  Narasumber pada kuliah tamu tersebut adalah Bu Dr. Wahyu Utami, dosen UGM di bidang konservasi heritage.

IMG_5105 sDalam paparannya, Bu Wahyu Utami yang akrab dipanggil Bu Tami memberi informasi aktual mengenai gencarnya proyek kota pusaka sehingga banyak kota di Indonesia tengah berbenah dan berlomba untuk mengajukan diri. Kota-kota tersebut rata-rata memilik sejarah yang panjang, baik sejak pra-sejarah, kerajaan hindu-budha, hingga jaman penjajahan belanda. Salah satu Kota tersebut adalah Kebumen. “Yang menarik sekali dari Kebumen adalah perpaduan antara banyumas dan bagelen. Pertemuan kedua budaya tersebut membentuk perpaduan unik pada masyarakat dan tata ruangnya,” terang Bu Tami.

Lebih lanjut, Bu Tami menjelaskan lokasi Kebumen dilewati rel kereta api yang merupakan warisan strategi tata ruang jaman penjajahan. Saat itu, Belanda yang memiliki strategi bagaimana agar hasil perkebunan dapat diangkut ke Jakarta agar mudah dibawa ke Negeri Seribu Kincir Angin. Maka dibuatlah 6 titik stasiun kereta yang masih berfungsi hingga saat ini, yaitu; 1. Stasiun Kebumen; 2. Stasiun Soka; 3. Stasiun Sruweng; 4. Stasiun Karanganyar; 5. Stasiun Gombong; 6. Stasiun Ijo.

Sebagai Kota yang dibangun Hindia Belanda, landscape Kebumen memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya berupa peninggalan fisik Benteng Van Der Wijk dan peninggalan aktifitas yang tetap dilakukan masyarakat secara turun menurun bahkan hingga saat ini berupa Kawasan Pabrik Genteng Sokka. Saat ini tobong-tobong pembakar genteng di sana tetap berdiri kokoh sehingga membentuk citra dan identitas tersendiri. Dari segi sejarah perjuangan, Kebumen juga memiliki sejarah penting terkait toleransi etnis. Pangkalan militer gombong merupakan cikal bakal masyarakat etnis tiongkok turut serta bergabung dalam militer Indonesia.

Dalam pelaksanaan Kota Pusaka, dibutuhkan instrumen pengendalian berupa PERDA dan PERGUB khusus untuk menjaga dan meminimalisir pergeseran ruang yang merusak struktur kota. Kedepan, kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memanajemen ruang dengan nilai pusaka tinggi, bukan menafikan perubahan dan perkembangan Kota. Sebab poin salah satu poin utama dari Kota Pusaka adalah merubah fungsi bangunan, tanpa merombak bangunan. “Yang penting masih dalam zona (peruntukan)nya, tidak berlebihan”, tutup Bu Tami di akhir Kuliah Umum.