Membangun Konsep Baru Permukiman Nelayan di Kampung Wisata Bulak, Surabaya

Perkampungan nelayan selama ini sering dihubungkan dengan lingkungan yang sederhana, kurang berkembang, dan bahkan terkesan kumuh. Pengembangannya sebagai permukiman menengah ke atas amat jarang terjadi karena sebagian besar masyarakat nelayan Indonesia merupakan nelayan kecil yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Wilayah pantai yang dikembangkan dengan baik biasanya merupakan kawasan pariwisata yang khusus dibangun untuk perhotelan dan wisata pantai. Perkampungan nelayan seolah dianggap sebagai ‘halaman belakang’ yang hanya berfungsi untuk menghasilkan produk laut bagi daerah wisata di dekatnya.

Meski sebagian masih banyak yang dianggap sebagai ‘halaman belakang’, namun cara pandang seperti ini agaknya memang sudah saatnya untuk dirubah. Sebagian pemerintah daerah saat ini telah memulai inisiatif untuk mengembangkan wilayahnya dengan konsep-konsep baru. Contoh nya di kota Bandung dan Surabaya yang terkenal dengan konsep ruang publiknya yang kreatif. Sebagai salah satu kota dengan wilayah pesisirnya yang strategis, Surabaya mulai menata kawasan permukiman tepi pantainya dengan gaya tersendiri. Kampung Wisata Bulak di Pantai Kenjeran merupakan salah satu contohnya.

hkh;hil.jpg

Kampung Wisata Bulak, Kenjeran, Surabaya (kimbaharisukolilobaru.blogspot.co.uk)

Kampung Wisata Bulak adalah sebuah perkampungan nelayan yang terletak di sepanjang kawasan pesisir pantai Kenjeran, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Di sini, ratusan rumah yang sebagian besar dihuni oleh para nelayan ini mendapatkan program penataan dan pengecatan ulang sebagai bagian dari program pengembangan wisata terpadu di kecamatan berpenduduk sekitar 5.500 jiwa tersebut.

Perkampungan ini terkesan unik dan meriah dengan pewarnaan rumah-rumahnya yang semarak. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, mengharapkan penataan yang mempercantik kawasan pesisir ini dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara. Kampung nelayan ini memang ditujukan sebagai suatu kampung wisata dan tidak hanya sekedar perkampungan nelayan biasa yang kegiatannya hanya sebatas penangkapan dan pengolahan kekayaan laut semata. Hal ini merupakan wujud  kerja sama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan PT HM Sampoerna yang telah diinisiasi sejak tahun 2008 lalu.

Sebagai sebuah kampung wisata, Kampung Wisata Bulak ini memberikan sentuhan kampung nelayan yang memiliki karakter humanis dan ramah. Di sini, wisatawan dapat melihat aktivitas warga yang sebagian besar menjadi nelayan, sekaligus melihat dari dekat bagaimana pengolahan ikan dilakukan hingga sampai di tangan konsumen. Selain itu, di kawasan Kampung Wisata Bulak juga akan dibangun taman indah yang dilengkapi dengan patung Suro dan Boyo setinggi 25 meter menghadap ke laut. Pembangunan Jembatan Kenjeran yang dilengkapi air mancur menari juga disiapkan dan tinggal menunggu pelaksanaan peresmiannya. Apabila hal ini dilanjutkan sesuai rencana, maka Kampung Wisata ini akan dapat dikategorikan sebagai wisata budaya, dengan kehidupan masyarakat sebagai daya tarik utamanya (Pendit, 1994).

Melihat trend tempat wisata populer saat ini, daya tarik terbesar akan terpusat pada objek wisata yang unik dan berbeda dari yang lain. Dengan menjamurnya media sosial yang juga sering menjadi ajang ‘pamer lokasi’, jumlah pengunjung akan senantiasa tinggi meskipun hanya untuk sekedar ambil foto. Menurut Mason (2000:46) dan Poerwanto (1998:53) Atraksi atau daya tarik suatu tempat wisata memang merupakan komponen utama suatu tempat wisata. Akan tetapi, untuk menciptakan sebuah obyek wisata yang komplit, komponen lain yaitu aksesbilitas, kenyamanan (amenities), dan networking juga perlu dibangun. Saat ini, kelemahan Kampung Wisata Bulak adalah pada komponen kenyamanannya, di mana aroma kurang sedap yang berasal dari pengolahan ikan masih terlalu mengganggu bagi wisatawan yang ingin mengunjungi lebih dekat.

Melihat konsep penataan mandiri seperti ini, tentu akan menjadi pembelajaran dan percontohan tersendiri bagi kawasan permukiman nelayan lain di Indonesia. Pemerintah daerah sudah sepatutnya mampu menyertakan setiap kebutuhan permukiman di wilayahnya untuk dapat ditata tanpa menunggu bantuan maupun program dari pusat. Program penataan 11 perkampungan Nelayan tahun 2016-2019 yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memang perlu dilakukan, namun program penataan secara lokal menyesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakatnya akan lebih utama untuk dapat dilaksanakan agar mampu menciptakan potensi yang unik dan berciri khusus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s