Diskusi Sinergitas Mewujudkan “Kota Hijau”

 

Diskusi ini merupakan inisiasi Forum Kota Hijau, Kota Yogyakarta bekerja sama dengan HRC, dilaksanakan pada hari Kamis 29 Januari 2015 di Gedung Abhiseka Jl. Ipda Tut Harsono No.26 Yogyakarta. Diskusi ini membahas tentang semua permasalahan lingkungan di perkotaan dan merumuskan strategi yang tepat untuk keberlanjutan mewujudkan kota hijau. Diskusi ini bertujuan untuk menyegarkan kembali isu-isu tentang  perencanaan dan pembangunan di Kota Yogyakarta, bagi para pegiat kota hijau melalui sinergi  antara sumber daya komunitas kota hijau, pemerintah dan unsur pegiat lainnya.

Narasumber sebagai pemicu diskusi dalam diskusi ini adalah Bp. Totok Pratopo selaku Ketua Forum Kota Hijau Yogyakarta, Ibu Endah Dwi Fardhani mewakili HRC, Bp. Halik Sandera selaku Ketua Walhi DIY, Ibu Cesaria mewakili Bappeda Kota Yogyakarta. Peserta terdiri dari semua pengurus Forum Kota Hijau, unsur pemerintahan yaitu perwakilan Bappeda Kota Yogyakarta, BLH Kota Yogyakarta, Dinas Kimpraswil, Tata Pemerintahan, Dinas Perizinan, Dinas Bangunan Gedung dan Aset Daerah, Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP),  unsur NGO yaitu Forum BKM Kota, LPMK Kota, Yayasan Kota Kita, Yayasan Griya Mandiri, HRC, Dukuh Institute dan mahasiswa.

Menyimak fakta-fakta di lapangan tentang dinamika perkotaan di Yogyakarta, pertanyaan yang akan muncul adalah “apakah kita sudah pada jalur yang tepat dalam membangun kota yang berkelanjutan dan ramah lingkungan?” dan “apakah komitmen mengelola perkotaan dengan kaidah green city sudah serius kita lakukan?”

Pemerintah Kota Yogyakarta sudah mulai bekerja untuk mewujudkan kota hijau antara lain mendorong pengelolaan sampah secara mandiri di kampung-kampung dengan pola bank sampah, membangun fasilitas pengelolaan limbah, memelihara jalan dan taman kota, menginventaris ruang-ruang terbuka perkotaan untuk menambah ruang terbuka hijau dan lain-lain.

Faktanya kemacetan di jalan-jalan kota semakin parah, yang berpengaruh terhadap peningkatan suhu udara. Fasilitas bagi pejalan kaki sudah tidak diakomodir lagi, berganti fungsi menjadi ruang  parkir dan pedagang kaki lima, kampung-kampung semakin padat dan tidak layak, sungai-sungai mulai tercemar. Persoalan ini menjadi pemicu diskusi untuk memetakan semua masalah dan merumuskan solusi dan strategi yang tepat.

Ibu Endah Dwi Fardhani memaparkan antara lain tentang proses untuk menuju kota hijau, dan menginformasikan kembali hasil dari masterplan Kota Hijau yang disusun pada tahun 2013, meliputi :

  • Green waste , melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pembentukan bank sampah
  • Green energy, penggunaan lampu lalu lintas tenaga surya, pengelolaan biogas melalui IPAL industri tahu dan IPAL komunal dengan target 5 tahun pertama  adalah program langit biru
  • Green building, sosialisasi dan pengenalan konsep green building menjadi target 5 tahun pertama
  • Green community, target yang ingin dicapai dalam 5 tahun pertama antara lain pembentukan komunitas perempuan, pengembangan kampung vertikal

Bapak Halik Sandera menyampaikan permasalahan transportasi, bangunan, vegetasi dan pertamanan, energi, air, makanan, limbah, teknologi yang terjadi di Kota Yogyakarta saat ini.

Presentasi ketiga oleh Ibu Cesaria dari Bappeda Kota Yogyakarta menjelaskan bahwa Forum Kota Hijau merupakan bagian dari upaya pengembangan komunitas hijau dan kota hijau, sinergi antara komunitas-komunitas hijau dan pemerintah perlu ditingkatkan untuk mewujudkan kota hijau.

Tanggapan dari Bapak Irfan (Ketua BLH Kota Yogyakarta) :

  • Limbah dari usaha laundry menjadi sumber pencemaran air sungai, sehingga diperlukan IPAL untuk mengolah limbah dari usaha laundry tersebut.
  • Penggunaan produk-produk hasil pengolahan sampah non organik perlu ditingkatkan, misalnya dengan penggunaan produk-produk hasil pengolahan sampah non organik di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Tanggapan dari perwakilan Kimpraswil Kota Yogyakarta :

  • Pengadaan lampu hemat energi sebagai PJU sebanyak 160 unit telah dilakukan. PJU meliputi penerangan di jalan raya, jalan lingkungan, dan lampu sorot sungai.
  • Penggunaan lampu dengan tenaga surya saat ini telah dikembangkan untuk lampu lalu lintas.
  • Pembersihan lumpur di saluran drainase terus dilakukan.

Tanggapan oleh Bapak Yanto dari Komunitas Sungai Gajah Wong :

  • Lelang kendaraan oleh pemerintah kurang bijak karena mendorong kepemilikan kendaraan bermotor oleh masyarakat. Kendaraan dinas pemerintah yang sudah tidak terpakai misalnya dapat dialihkan untuk SMK sebagai media praktik.
  • Ketersediaan air bersih / air tanah di Kota Yogyakarta perlu menjadi perhatian pemerintah karena pembangunan yang tidak terkendali terutama pembangunan usaha perhotelan yang mengambil banyak air tanah.
  • Diperlukan TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) untuk menangani permasalahan sampah perkotaan dan upaya-upaya pengelolaan sampah yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Tanggapan oleh Bapak Amir dari Komunitas Sungai Gajah Wong :

  • Peran Selokan Mataram dalam membantu menampung air hujan untuk pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat perlu ditingkatkan.
  • Alih fungsi lahan sangat perlu dikendalikan, tidak hanya di Kota Yogyakarta tetapi juga Kabupaten Sleman untuk mempertahankan area-area resapan air sehingga menjamin ketersediaan air tanah.

Bapak Totok Pratopo mengatakan ke depan perlu membangun komitmen dalam agenda kota hijau, meningkatkan sinergitas antara program Pemkot dan komunitas, menilai capaian program kota hijau, mengetahui isu-isu terbaru dan menyusun rencana aksi untuk mewujudkan kota hijau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s