Agar Rumah Bebas Banjir

Di kawasan perkotaan yang berada di dataran rendah seperti di Jakarta, salah satu risiko nyata saat musim penghujan adalah banjir. Di Jakarta, berdasarkan prakiraan cuaca BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) puncak banjir diperkirakan pada minggu ketiga Januari 2015.

Antisipasi banjir sebenarnya bukan hanya soal persiapan dalam menghadapi bencana. Hal ini bisa dilakukan jauh-jauh hari saat hendak memilih rumah. Pada dasarnya alam sudah menyiapkan banyak penampung, seperti danau, rawa dan sungai yang tersedia di kawasan dataran banjir. Tetapi seiring dengan pertambahan penduduk, lahan yang seharusnya menjadi tempat air justru dibangun menjadi permukiman.

Saat terjadi hujan besar, badan sungai yang tersisa tidak lagi mampu menampung. Akibatnya air akan mencari lokasi yang lebih rendah. Ditambah lagi soal pengurukan beberapa wilayah rendah yang tidak diimbangi sistem drainase yang benar. Air akan meluber ke daerah sekitarnya, termasuk daerah yang sebenarnya bukan daerah banjir.

Untuk menyiasatinya, sebaiknya waspada pengembang yang tidak jujur. Ada tiga tipe pengembang yaitu pengembang besar, menengah dan kecil. Pada pengembang besar, tentu tanggung jawab serta kepercayaan yang diberikan bisa lebih tinggi, sebab bukan hanya membangun rumah, mereka juga bertanggung jawab mengembangkan kawasan, seperti membangun jalan, menyediakan fasilitas publik, serta sistem drainase yang baik.

Ada banyak hal penyebab banjir. Perubahan bentang alam dan penurunan permukaan tanah yang terjadi akibat sistem drainase yang salah atau tidak terawat adalah salah satunya. Akibatnya seiring dengan perkembangan kawasan, kapasitas lokasi menampung air menjadi menurun, apalagi jika tidak diimbangi perencanaan secara detail dan matang.

Dahulu sebelum Jakarta dibangun secara masif, alam masih bisa menampung lewat situ-situ atau rawa-rawa. Sekarang, rawa semakin dangkal dan lahan terbuka semakin sempit, sehingga menyebabkan banjir. Kawasan seharusnya ada pembagian peruntukan lahannya, untuk wilayah ekonomi, lahan terbuka, atau permukiman. Tetapi sering terjadi pelanggaran dalam penerapannya, yang seharusnya wilayah resapan air, justru menjadi permukiman atau kawasan bisnis.

Jika keadaanya seperti itu, cara terbaik adalah pindah atau menjual rumah. Lebih baik lagi, mengantisipasi dari awal. Langkah mudahnya adalah mendeteksi banjir dari keberadaan saluran air. Saat pertama kali menentukan lokasi rumah, calon penghuni disarankan melihat adakah saluran air atau sungai pembuangan air yang besar. Jika ya, berarti rumah relatif aman. Tetapi sungai juga berpotensi meluap. Untuk hal tersebut, dapat bertanya kepada warga sekitar tentang riwayat sungai dan banjir di sekitar rumah.

Alternatif lainnya, dapat melihat genangan. Dari genangan, dapat mengetahui sistem drainasenya baik atau tidak. Menunggu sekitar 2 jam setelah hujan besar, jika masih ada genangan berarti ada masalah drainase.

Sumber: Majalah Intisari edisi Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s