HRC Adakan Public Lecture Tentang Pengelolaan Sungai

IMG_2069 - s

Kamis (04/12), Housing Resource Center (HRC) Jogja mengadakan public lecture yang bertema “Belajar Pengelolaan Sungai dari Tetangga.” Kegiatan berlangsung selama kurang lebih dua jam dari pukul 09.15-11.00 WIB bertempat di Studio HRC. Menghadirkan pembicara Bapak Totok Pratopo, Ketua Pemerti Kali Code Yogyakarta. Public lecture kali ini berhasil menarik perhatian para peserta yang datang, diantaranya mahasiswa dari UGM, UII, UIN Sunan Kalijaga, pemerhati lingkungan, dan aktivis peduli lingkungan.

Acara dimulai dengan presentasi dari pembicara mengenai persoalan sungai di Indonesia. Bapak Totok Pratopo menjelaskan bahwa sungai di Indonesia belum jelas regulasinya, seluruh perkotaan di Indonesia belum ada model yang bagus untuk pengelolaan sungai. Sehingga kita butuh model pengelolaan dari negara-negara tetangga yang sudah serius menanganinya. Selanjutnya pembicara berbagi mengenai pengalaman perjalannya selama berkunjung ke sungai-sungai percontohan di dunia, seperti Melaka River di Malaysia, Chaopraya River di Bangkok Thailand, Huron River dan James River di Amerika Serikat.

Dari perjalanan itu, Pak Totok mendapatkan banyak pengalaman, seperti pengelolaan sungai secara terintegrasi sebagai world heritage, pemilihan material dalam pembangunan sepanjang pinggir sungai, penataan sekitar sungai sebagai kawasan wisata kuliner, langkah edukasi masyarakat tentang ekosistem sungai, pembentukan asosiasi sungai, dan pengalaman berharga lainnya. Pak Totok juga menjelaskan perkembangan dan permasalahan Sungai Code di Yogyakarta yang meliputi penataan kawasan Code beserta regulasinya, antisipasi banjir lahar dingin, rencana pembangunan rusunawa di pinggir sungai, pengelolaan secara ekonomi dari segi wisata dan pemberdayaan lainnya.

Presentasi berlangsung sekitar satu jam kemudian dilanjutkan dengan sharing dan diskusi. Berbagai tanggapan dan pertanyaan muncul dari peserta. Disa, mahasiswi jurusan Arsitektur UGM menanyakan apakah di Yogyakarta sudah ada komunitas besar yang menangani persoalan sungai, Pak Totok menjawab terdapat komunitas yang terbagi-bagi, semisal komunitas Sungai Gajah Wong, Sungai Code. Namun ketika sampai di grass root komunitas belum sampai melakukan edukasi tentang bagaimana penanganan banjir dan solusi pembangunan vertical house. “Kami harap komunitas tidak hanya melakukan kegiatan bersih sungai saja, tapi juga membantu melakukan edukasi pengelolaan sekitar sungai kepada masyarakat,”paparnya.

Rohmah dari Forum Pelajar Peduli Lingkungan (FPPL) Jogja menawarkan kenapa kita (masyarakat code) tidak bekerja sama dengan para relasi di luar negeri, semisal membentuk donasi, daripada menunggu pemerintah yang belum pasti. Totok menanggapi bahwa persoalan fundraising merupakan persoalan serius di tengah-tengah masyarakat, “Kami masih takut dengan “fundraising” karena beberapa respon masyarakat yang cenderung negatif. Jika menurut teman-teman penting mari kita bentuk bersama-sama sembari mengedukasi masyarakat tentang penggunaannya.”

Diskusi berjalan cukup lancar. Berbagai repon postif bermunculan dari peserta. Mereka berharap Pak Totok bisa terus bersemangat melakukan edukasi pengelolaan sungai kepada masyarakat. Dan seperti biasa diskusi diakhiri dengan sesi bincang-bincang lanjutan dan foto bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s